Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai

Penulis             : Raudal Tanjung Banua

Jenis                : Kumpulan cerpen

Tebal               : xvi + 310

Ukuran            : 14 x 21 cm

ISBN               : 978-602-50433-3-8

Cetakan          : I, Oktober 2018

Harga              : Rp. 95.000

Raudal Tanjung Banua, penulis buku ini mengaku sudah lama mengamati bagaimana kota-kota di Tanah Air tumbuh dengan cepat lewat “proyek” pemekaran era otonomi. Sejumlah provinsi/kabupaten, terbagi menjadi dua atau lebih, baik dengan pola penamaan mata angin (barat, utara, selatan, utara, barat daya, tengah), penamaan geografis (hulu, kuala, gunung, pulau) atau berdasarkan nama etnik terbesar maupun nama-nama yang selama ini dianggap historis-familiar.

Butuh cara untuk menyajikan ketertarikan semacam ini di luar laporan media, katakanlah yang berupa feature atau berita. Sementara cerita, dalam hal ini cerpen, memiliki lebih dari tokoh dan peristiwa sebagai konvensinya. Ada tema, gaya bahasa, plot, latar dan hal-hal lain terkait unsur instrinsik. Cerpen dapat mendayakan unsur-unsur instrinsiknya ini, dan Raudal sendiri tertarik mengangkat latar/setting sebagai fokus utama, tiada lain karena erat kaitannya dengan sebuah kota. Bukankah selama ini latar dianggap sebagai abstraksi belaka dari peristiwa dan kehidupan tokoh-tokohnya? Ia nyaris tak berbicara, kerap hanya dituturkan narator sebagai pembuka atau penghias (aksesori) dari dialog/monolog atau aksi-reaksi para tokohnya. 

Raudal juga sadar bahwa persoalan kota-kota kecil bukan semata terkait proses otonomisasi yang bergegas, namun juga sejumlah proses yang melambat. Tata-ruang yang amburadul, sejarah yang redup, habisnya sumber daya, bergesernya pusat pertumbuhan ekonomi, binasanya infrastruktur, dilecut bencana, dan beberapa kasus terasa sangat menyedihkan, dalam apa yang disebut van Klinken (2009) sebagai “Perang Kota Kecil”.

Di sisi lain, faktor global merasuk melalui rupa-rupa iklan, barang, jasa dan citra sejagad serta program-program swadaya yang lebih mengedepankan finansial ketimbang keringat. Semua itu membuat kota-kota kecil kita merasa menjadi bagian dari dunia, tetapi di saat yang sama sebenarnya tersaruk di sudut-sudut penawaran dan ketergantungan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *